5 Tradisi Unik Ramadan yang Hanya Ada di Indonesia!

Reporter : Fery Rahmat Hakim
Redaktur : Chindy Puspita Dewi
Sumber foto : (Kompas.com/Yamin Abd Hasan)

NEWSROOM UNTIRTA – (10/5) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) mengumumkan hasil Sidang Isbat, Kamis, (23/4). Penentuan awal bulan Ramadhan, diumumkan lewat channel YouTube ‘Kemenag RI’ yang kemudian disepakati, bahwa awal puasa atau 1 Ramadan 1441 H jatuh pada Jumat, 23 April 2020.

Sidang yang digelar di Kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, menjadi penetapan awal Ramadan di Indonesia oleh Kemenag RI. Hari ini bulan Ramadan telah memasuki hari ke-17, Minggu (10/5).

Penentuan awal Ramadan yang berbeda dari biasa, hingga beberapa tradisi Ramadan yang tidak bisa dilakukan akibat anjuran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah pusat turut mempengaruhi jalannya Ramadan tahun ini.

Namun nyatanya, ada fakta unik yang terdapat pada bulan Ramadan di Indonesia. Beberapa tradisi terkadang hanya bisa ditemui saat Ramadan dan hanya ada di Indonesia, karenanya berikut 5 tradisi yang terjadi di bulan Ramadan versi Newsroom Untirta.

1. Tradisi Qunutan dan Kupatan di pertengahan, 15 Ramadan
Biasanya tradisi ini dilakukan pada hari ke-15 puasa oleh masyarakat Banten. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk syukur karena telah melewati setengah waktu dari bulan suci Ramadan ini.
Dilansir dari satubanten.com, salah satu bentuk kegiatan dari tradisi ini ialah masyarakat Banten akan membuat ketupat beserta lauk pauknya seperti opor ayam, sayur kulit melinjo, hingga sambal kentang goreng. Berawal dari sanalah beberapa orang menyebut tradisi ‘qunutan’ sebagai ‘kupatan’, hal ini pun masih tetap berlangsung hingga Ramadan tahun ini.

2. Tradisi Dandangan Kudus Peninggalan Sunan Muria
Dilansir dari parapsikologi.co.id, ‘dandangan’ ialah sebuah tradisi peninggalan Sunan Muria atau Sunan Kudus yang dilakukan sebelum Ramadan tiba. Tradisi ini berupa sebuah pasar kaget di sepanjang jalan 1,5 KM dari simpang tujuh hingga Menara Kudus. Pasar itu pun menjual beberapa jenis seperti aneka makanan, produk lokal berbentuk kerajinan tangan, kain, sepatu, baju, hingga barang antik.
Denny Nur Hakim selaku juru bicara Yayasan Masjid Menara Kudus mengatakan bahwa, sejarah Dandangan ini berasal dari suara beduk yang dipukul sebagai tanda bahwa awal bulan Ramadan sudah tiba.
“’Dang dang dang!’ jika dipukul di tengah, dan jika dipukul di pinggir bunyinya ‘Dug! Dug! Dug!’, dari sinilah nama Dandangan ditradisikan sebelum Ramadan, sebagai tradisi peninggalan (Sunan) Kudus,” ujar Denny.

3. Tradisi Festival Ela-Ela
Dilansir dari kompas.com Festival Ela-Ela ialah tradisi di mana masyarakat menyambut malam Lailatul Qadar di Kota Ternate, Maluku Utara. Pelaksanaan festival tersebut dimulai dari Masjid Sultan Ternate yang diawali dengan ritual khusus serta pembacaan tamsil dan pembakaran obor, kemudian acara diakhiri dengan atraksi bambu gila.
Arifin Umasangadji selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate mengatakan bahwa Festival Ela-Ela ini merupakan tempat untuk mengembangkan budaya lokal di tengah pengaruh budaya luar. Hal ini dilakukan dalam rangka menumbuhkan karakter jati diri masyarakat Kota Ternate yang dilandasi dengan semangat keagamaan dan keberagaman yang berbingkai nilai-nilai adat.
“Unsur yang kita nilai dalam festival ini yaitu semarak atau partisipasi masyarakat, kemudian pesan-pesan moral, ada api yang jelas bukan dari listrik, ada narasi, ada inovasi baru yang memberikan kesan selain ritual tapi juga bagian wisata religi,” ujar Arifin.

4. Tradisi Meugang
Meugang ialah sebuah tradisi warisan budaya masyarakat Aceh dalam menyambut setiap bulan suci Ramadan. Dikutip dari cnnindonesia.com, tradisi Meugang yang sudah ada sejak ratusan tahun ini, identik dengan memakan daging sapi atau kerbau secara bersama-sama dengan masyarakat yang lainnya.
Pada tradisi tersebut, masyarakat tidak menghiraukan semahal apapun harga daging yang sedang melambung tinggi ataupun sebaliknya. Masyarakat Aceh akan mengikuti tradisi tersebut dengan senang hati.
Meugang adalah sebuah tradisi yang biasa terjadi pada 4 hari menjelang bulan Ramadan tiba. Para penjual daging dadakan akan berjajar rapi di lokasi yang telah ditunjuk pemerintah setempat, namun setelah beberapa hari kemudian ruang yang biasanya dipenuhi penjual daging tersebut itu akan kosong.
  
5. Tradisi Nyorog
Tradisi Nyorog ini berasal dari Suku Betawi yang identik dengan DKI Jakarta. Dilansir dari kumparan.com, ‘nyorog’ berarti membagi-bagikan bingkisan makanan yang lazimnya dilakukan dari keluarga yang paling muda ke yang lebih tua. Nyorog dilakukan dengan cara mendatangi keluarga yang lebih tua atau tokoh masyarakat yang dihormati. Untuk menyambut bulan suci Ramadan, hal ini sudah menjadi kebiasaan yang turun-temurun masyarakat Betawi lakukan.

Tidak hanya membagikan bingkisan, namun tradisi ini juga membuat anggota keluarga dari yang paling muda sampai yang paling tua saling bertukar makanan dan memakannya bersama-sama. Jenis bingkisan yang diberikan yakni panganan berupa kue-kue, ataupun bahan-bahan makanan seperti gula, kopi, susu, teh, dan beras. Kadang kala, makanan khas Betawi yang dimasukkan ke dalam rantang seperti sayur gabus pucung, turut dijadikan bingkisan pada tradisi tersebut.

Banyaknya keberagaman adat, budaya, suku, bangsa serta agama di Indonesia, nyatanya turut dijelaskan pula dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 18b ayat (2) yang berbunyi :
“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

Oleh karena itu, sebagai masyarakat Indonesia yang mencintai keanekaragaman adat, budaya serta suku bangsa yang ada, mari mulai menghargai dan mengikuti adat istiadat yang baik dari daerah kita masing-masing. (FRH/CPD/MA-NEWSROOM UNTIRTA).

Posting Komentar

0 Komentar