Eksistensi Petasan di Bulan Ramadan

Reporter: Faizal Fadhilah
Redaktur: Sucita Defi
Ilustrasi (Gigih Hanafi/JIBI/Harian Jogja)

NEWSROOM UNTIRTA - Hati – hati, main petasan itu berbahaya. Jemarinya semakin bergetar ketika sumbu petasan seukuran cabe rawit itu mendekati api dari pemantik yang dipegang tangan kirinya. Begitu sumbu berbunga api, secepat kilat ia melemparkan jauh-jauh petasan itu ke tanah. Semua menutup mata, sebagian lari menjauh sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.

Dan…  DHARRRRR !!!

Sekejap ketegangan sekitar lima detik itu berubah menjadi gelak tawa puas para bocah kecil itu. "Suaranya kenceng banget, nyalain lagi," ujar salah seorang bocah dengan menggebu-gebu.
Pada malam pertama bulan Ramadan saya (pewarta Newsroom Untirta) tanpa sengaja mengikuti sekelompok bocah bermain petasan di kawasan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Mungkin tidak hanya anak-anak itu yang bermain petasan. Tapi anak-anak di hampir setiap penjuru kota pun senang menggelar “pesta perayaan” yang sama yakni main petasan.

Petasan sering kita temui di bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran. Suaranya yang memekikkan dan nyaring ditelinga justru menjadi daya tarik. Tradisi petasan sendiri bermula dari negeri tirai bambu. Konon, suara ledakan petasan ini dahulunya dipercaya untuk mengusir roh jahat.
Dikutip dari Historia, jauh sebelum penemuan bubuk mesiu, petasan ini digunakan masyarakat Cina untuk mengusir Nian, sosok makhluk gunung yang selalu mengganggu perayaan tahun baru Cina. Hingga seiring berjalannya waktu, petasan pun kerap digunakan dalam setiap perayaan di Cina, termasuk Imlek dan tahun baru Cina.
Kemudian dalam perkembangannya, pada era Dinasti Sung (960 – 1279 M), sebuah pabrik petasan didirikan di Provinsi Hunan, Cina. Pabrik itu menjadi dasar dari pemuatan kembang api karena lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di Angkasa. Hingga saat ini, Provinsi Hunan masih dikenal sebagai produsen petasan dunia.

Tidak berhenti di situ. Petasan pun merambah ke Eropa melalui Marcopolo. Ia membawa beberapa petasan Cina ke Italia pada tahun 1292 silam. Sementara di Indonesia, budaya petasan itu dipercaya muncul dari bawaan para pedagang Cina di Nusantara yang datang melalui jalur sutera. Suara ledakan beruntun yang digunakan oleh para diaspora Cina itu dianggap sebagai sesuatu yang meriah oleh masyarakat pribumi.

Masyarakat kita mudah menyerap budaya dari luar, pada masa itu diseraplah “kemeriahan” dari petasan tersebut oleh para pendahulu kita. Yang paling dekat, coba saja tengok gaya pernikahan orang-orang Betawi. Di sana, niscaya kamu akan mendengar rentetan suara ledakan petasan silih berganti.

Pada awalnya petasan digunakan dalam pesta perkawinan atau khitanan, sama seperti imigran Cina. Sejak itu petasan pun berkembang digunakan untuk menyambut hal-hal yang sifatnya istimewa. Hampir bersamaan pada saat itu Islam tengah berkembang pesat di Nusantara. Dalam agama Islam, Ramadan dan Lebaran merupakan perwujudan dari hal yang istimewa. Masyarakat pun kemudian bersukacita menyambut bulan suci Ramadan dan Lebaran dengan menyulut petasan dan tetabuhan lainnya.

Bahkan sejak dahulu, Dikutip dari Republika.co.id kata Alwi Shahab sebagai Budayawan bercerita “Ramadan tanpa petasan itu selalu dirasa kurang lengkap, agak serasa nanggung aja,”. Pada masanya, keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap budaya asing membuat proses kulturasi budaya mudah terjadi. Utamanya, budaya bawaan orang-orang Tionghoa di tanah Nusantara. “Ada banyak kulturasi dan budaya bawaan dari Cina di Indonesia,” kata Alwi menegaskan.

Sejatinya, bagi Alwi petasan ini mau tidak mau sudah menjadi budaya turun temurun yang tertanam dimasyarakat kita. Menjadi kearifan lokal yang tak bisa dibendung. Alwi mengungkapkan harapannya, agar setidaknya pemerintah tidak perlu melarang budaya petasan. Seharusnya pemerintah bukan secara represif melakukan pelarangan, tapi melakukan sosialisasasi terkait perayaan dengan petasan.

Dikutip dari Beritagar.id wacana mengenai petasan di bulan Ramadan begitu kontradiktif ketika diseret dalam pembahasan ruang agama, terutama Islam. Sebab petasan dan Islam tak memiliki hubungan sedikit pun. Baik dalam kaitan latar sejarah, maupun kajian keilmuan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meyakini bahwa tradisi menyalakan petasan oleh beberapa kalangan yang percaya sebagai upaya mengusir roh jahat, bukan berasal dari ajaran aqidah Islam. Petasan dalam pandangan Islam tak ubahnya hanya sebuah bentuk pemborosan. MUI pun secara tegas mengimbau bahwa menyalakan petasan adalah bentuk dari ketidakmanfaatan yang tabdzir (menghambur-hamburkan harta), juga mubadzir.

Bahkan dalam al-Qur’an surat al—Isra ayat 26 – 27, disebutkan bahwa orang yang memubadzirkan harta dan waktu adalah teman syetan.Wallahu’alam…

Meskipun petasan membahayakan dan banyak madhorotnya namun, petasan bagi sebagian orang dapat bermanfaat. Mereka yang menganggur bisa bekerja mencari nafkah menjadi pembuat atau penjual petasan saat bulan Ramadhan. (FF/SD/MA-NEWSROOM UNTIRTA)                       

Posting Komentar

0 Komentar