Lebaran di Tengah Pandemi, Masihkan Baju Baru menjadi Kebutuhan?


Reporter          : Mia Audina

Redaktur         : Hasbi Firdaus 
Potret pedagang melayani konsumen yang berbelanja busana muslim di pusat perbelanjaan. ANTARA FOTO/Ampelsa
NEWSROOM UNTIRTA - Pada bulan suci Ramadan, umumnya banyak umat muslim yang bersiap menyambut Lebaran dengan berbagai persiapan, tentunya berburu baju baru menjadi hal yang tidak pernah ditinggalkan.  Namun, berburu baju lebaran pada saat Ramadan di tengah pandemi COVID-19 menjadi tantangan tersendiri saat ini, lantaran penerapan aturan social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dilansir dari laman CNBC Indonesia, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat terdapat 197 pusat perbelanjaan atau mal yang harus menutup sebagian besar aktivitasnya. Mulai dari ujung Sumatera Utara hingga Sulawesi.
DKI Jakarta menjadi daerah penyumbang terbanyak dengan 78 pusat perbelanjaan yang harus menutup sebagian besar aktivitasnya. Hal ini tidak lepas dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diperpanjang hingga 22 Mei mendatang. 
Dikarenakan pusat perbelanjaan di sejumlah wilayah di Indonesia terpaksa ditutup untuk upaya pencegahan dan memutuskan rantai COVID-19 yang semakin meluas, hal ini turut mengubah tren berbelanja masyarakat belakangan ini.
Banyak dari masyarakat saat ini justru mulai dan sering berbelanja melalui sosial media dan E-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan Lazada. Kendati demikian, di tengah pandemi seperti ini apakah membeli baju menjelang Lebaran masih menjadi prioritas?



Menurut Tuti Maryati (40) ibu rumah tangga asal Kota Serang, membeli baju Lebaran menurutnya adalah tradisi yang tidak bisa dihilangkan, namun pada kondisi seperti ini ia lebih memprioritaskan untuk membeli kebutuhan bahan pokok makanan.

“Beli baju lebaran kan tradisi dari dulu ya tapi liat ada uang lebih ga, apalagi sekarang lebaran cuma di rumah aja jadi baju baru ga terlalu penting lah. Uangnya mending buat beli sambako lumayan tuh Ramadan ini Shopee lagi miring harga sembakonya gratis ongkir pula,” ujarnya
Perencanaan Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto dilansir dari Kompas.com  menyarankan di tengah situasi yang serba sulit saat ini, langkah terbaik yakni mengatur pengeluaran, terutama kebutuhan belanja Lebaran. Eko pun menyarankan dalam kondisi pandemi ini, ada baiknya untuk mengurangi sifat konsumtif dan sebaiknya bagi yang mampu berbagi kepada yang kekurangan baik dalam bentuk sedekah maupun zakat.
Selain itu, jika memperoleh THR maka ada baiknya jika tetap berhemat dan mengalokasikan dana THR untuk kebutuhan darurat. Hal ini dikarenakan ketidakpastiaan yang terjadi usai Lebaran masih membayangi.
“Kita enggak tahu ke depannya seperti apa. Atau mungkin yang lebih bahaya habis Lebaran langsung PHK. Maka mau tidak mau harus mengatur biaya untuk dana cadangan. Siapkan dana cadangan 2-3 bulan kedepan,” ujarnya pada tim Kompas.com. (MA/HFF/MA- NEWSROOM UNTIRTA)






Posting Komentar

0 Komentar