Mudik: Tradisi Unik Menjelang Lebaran

Reporter: Rianda Dwi Samiaji             
Redaktur: Sucita Defi
Ilustrasi Mudik Lebaran (Foto: kronika IAIN Metro)

NEWSROOM UNTIRTA - Lebaran akan segera tiba, kaum perkotaan secara bersamaan kembali ke kampung halaman. Mereka melaksakan mudik untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama sanak keluarga dan sahabat lama. Tradisi mudik menjelang Idul Fitri dilakukan satu tahun sekali dan selalu jadi sorotan di Indonesia.

Masyarakat yang melakukan mudik biasanya membawa banyak barang bawaan. Bahkan hingga diletakan di atas atap mobil, jika menggunakan mobil pribadi. Begitu juga dengan para pemudik motor, biasanya mereka menempelkan tulisan-tulisan lucu di belakang motornya. Tulisan tersebut seperti pulang malu tak pulang rindu dan lain sebagainya. Hal ini dapat dikatakan cukup unik, sebab jarang sekali ditemukan tradisi serupa di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Jadi dari mana sih asal muasal “mudik” yang selalu dilakukan hingga menjadi salah satu ciri khas lebaran di Indonesia? Yuk kita bahas disni.

Dikutip dari Gridoto.com Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ibnu Hamad, M.Si, "mudik" berasal dari kata "udik" yang berarti kampung. Mudik juga diartikan sebagai aktivitas pulang ke kampung halaman.

Dalam kata lain ada yang mengartikan mudik adalah Mulih dilik yang berasal dari bahasa Jawa yaitu Ngoko, asal muasal kata mudik. Sebenarnya mudik itu adalah tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah ada sebelum zaman kerajaan Majapahit. Mudik dilakukan oleh para pendahulu, mereka pulang membersihkan makam leluhurnya untuk meminta keselamatan dalam mencari rezki.

Istilah mudik lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Saat Jakarta yang menjadi Ibu Kota Indonesia mengalami perkembangan pesat. Jakarta berkembang sangat maju dalam berbagai aspek dibandingkan dengan kota-kota lain.

Jakarta menjadi salah satu kota impian untuk mengubah nasib bagi masyarakat pedesaan. Bagi yang sudah mendapatkan pekerjaan dan menetap di Jakarta, mereka memanfaatkan libur panjang lebaran untuk pulang ke kampungnya masing-masing.

Di lansir dari tiketturindo.com Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar mengatakan, mudik merupakan fenomena sosial yang sudah menjadi budaya bagi sebagian masyarakat Indonesia, dan tidak bisa dicegah. Sejak orang desa pergi ke kota, karena kota menjanjikan hidup yang lebih baik dan bisa memberikan lapangan pekerjaan,” ujar Musni saat dihubungi merdeka.com, Jumat (1/7).

Mereka masyarakat asli pedesaan yang bekerja di kota hanya bisa memanfaatkan waktu libur panjang di hari raya/lebaran saja untuk pulang kampung. Hal itu sangat ditunggu-tunggu agar dapat melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Hal ini akan terus berlanjut, mudik lebaran akan terus terjadi di Indonesia sebagai bentuk tradisi di bulan Ramadhan. (RDS/SD/MA-NEWSROOM UNTIRTA)

Posting Komentar

0 Komentar