Pandemi COVID-19: Masih Adakah Tradisi Qunutan?


Reporter: Khusnul Khotimah
Redaktur: Devy Yuliana
Ilustrasi ketupat saat tradisi qunutan. (Sumber: https://muslimobsession.com/tradisi-qunut-di-hari-ke-15-ramadhan/)
 NEWSROOM UNTIRTA (15/5) Bagi warga Banten, tradisi qunutan merupakan budaya yang ada di kala Ramadan tiba. Menariknya dalam tradisi ini, warga juga membuat sajian kuliner berupa ketupat dari janur atau daun kelapa yang disandingkan dengan lauk-pauk lainnya.
Tradisi qunutan yaitu salah satu bentuk rasa syukur masyarakat setelah melewati paruh pertama Ramadan. Tradisi qunutan ini digelar setiap 15 Ramadan. Biasanya masyarakat membuat ketupat bersama opor ayam atau sayur kulit tangkil dan sambal kentang goreng. Inilah alasan mengapa sebagian masyarakat menyebut qunutan dengan sebutan kupatan.
Sebab pada 15 hari terakhir bulan Ramadan, umat Islam akan mengalami banyak sekali godaan dalam berpuasa. Sehingga, diharapkan umat Islam tetap kuat dalam beribadah puasa meskipun berat dan banyak godaan.
Dikutip dari cnnindonesia.com, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Kota Serang Amas Tajudin mengatakan bahwa, dari sudut pandang tradisi sekaligus strategi dakwah, memakmurkan masjid bagi masyarakat adalah ngariung di masjid, bersodaqoh aneka makanan, atau lazimnya ketupat sayur yang sangat lezat dimakan bersama setelah tarawih hari ke 15.
Tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, di tengah pendemi COVID-19 ini ada daerah yang masih menjalankan tradisi qunutan, yaitu di Pandeglang. Bagi masyarakat Pandeglang, tradisi ini juga dijadikan media kupat qunutan antar sanak keluarga. Kupat yang sudah matang dibawa ke masjid atau musala untuk melakukan riungan dengan dilanjutkan doa bersama. Tradisi ini dilaksankan selepas salat tarawih.
Daerah Kampung Pasar Serang Banten yang sebelumnya menjalankan tradisi qunutan pun meniadakan tradisi ini akibat adanya COVID-19. Meskipun begitu, warga Kampung Pasar menjalankan tradisi qunutan ini dengan cara yang berbeda dari tahun sebelumnya. Warga tetap membuat sajian kupat dan lauk-pauk lainnya saat 15 hari Ramadan di rumah masing-masing,  namun tidak melakukan riuangan seperti biasanya di masjid ataupun di musala.
Saat pandemi COVID-19 kali ini, warga Banten harus banyak berdoa dan berzikir kepada Allah SWT. agar wabah ini segera berakhir dan kita semua dapat menjalankan aktivitas seperti biasanya. (KH/DYK/MA-NEWSROOM UNTIRTA)

Posting Komentar

0 Komentar