Untung-rugi Investasi Saat Pandemi


Reporter : Siti Maemunah
Redaktur : Nurul Jihan

(Ilustrasi pergerakan IHSG. Sumber foto: Medcom.id)
NEWSROOM UNTIRTA (15/5) – Pandemi COVID-19 tak hanya berimbas pada kegiatan ekonomi di pasar tradisional, namun juga di pasar saham atau bursa efek. Akibatnya, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung melemah. Dilansir dari Kontan.co.id, Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani menyampaikan, saat ini sentimen pasar masih buruk.
 “Ada ketakutan Pasar akan adanya perang dagang lanjutan antara Amerika Serikat dan China. Selain itu, kekhawatiran adanya gelombang kedua COVID-19 juga menjadi katalis negatif untuk IHSG,” kata Hendriko kepada Kontan.co.id, Rabu (13/5).
Menimpali hal tersebut, kepala kantor BEI KP Banten Fadly mengatakan, semua isu terkait ekonomi akan mempengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan yang sahamnya diperjualbelikan di bursa efek. Menurutnya, pandemi COVID-19 adalah salah satu faktor terbesar mempengaruhi perekonomian dunia.
First wave nya berhasil merontokkan harga-harga saham dunia, dan tidak tertutup kemungkinan second wave nya juga akan menghempaskan lagi harga-harga saham. Ujungnya akan menurunkan indeks harga saham, termasuk IHSG Indonesia,” tuturnya pada Jumat (15/5).
Dengan gejolak perekonomian yang tak pasti, tak sedikit investor yang menarik uangnya untuk menghindari kerugian. Karena, investasi saham saat ini dinilai masih sangat berisiko. Seperti dilansir dari Kumparan.com pada 15 Mei 2020, dana asing kabur sebanyak 1,062 triliun dan IHSG ditutup merah.
Meski banyak yang mengatakan berinvestasi ditengah pandemi berisiko rugi, namun tak sedikit juga berkata sebaliknya. Menurut Fadly, selaku kepala kantor BEI KP Banten, beberapa investor melihat bahwa kondisi harga saham memang sedang murah-murahnya. Ini adalah waktu yang baik untuk membeli saham. Namun, keuntungan dan risiko dalam berinvestasi memang tidak bisa dipastikan, bisa untung atau rugi.
“Akan tetapi menurut sebagian besar investor fundamental, masa krisis adalah masa dimana kita bisa membeli saham bagus di harga yang murah,” tambahnya.
Selain itu Fadly juga menambahkan, sebagian besar analis memang menyarankan untuk trading cepat di saat krisis seperti ini, khususnya bagi trader-trader jangka pendek. Tentunya dengan tetap memperhatikan momentum atau kesempatan yang ada.  
“Kendati demikian, untuk trader-trader dengan invesatsi jangka panjang ini tidak terlalu berpengaruh. Terutama bagi saham-saham perusahaan yang berfundamental baik,” tutupnya. (MAE/NJ/MA-NEWSROOM UNTIRTA)

Posting Komentar

0 Komentar