Warga Usia 45 Tahun ke Bawah Boleh Bekerja Saat Pandemi



Reporter: Sucita Defi
Redaktur: Devy Yuliana
Ilustrasi karyawan yang sedang bekerja. Foto: ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/Foc
NEWSROOM UNTIRTA (15/5) Jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Pemerintah setempat berupaya mempercepat penanganan dengan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dua belas daerah telah diberikan izin oleh pemerintah pusat melalui Menteri Kesehatan Terawan Agus pada Jumat (17/4/2020).
Dari 10 provinsi dengan kasus positif virus Corona terbanyak, hanya 3 provinsi yang menerapkan PSBB. Yakni Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Menurut data dari Gugus Tugas, 70 persen kasus positif virus Corona ada di Jawa. Angka kematian tertinggi akibat virus Corona mencapai 82 persen juga ada di daerah Jawa.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, sempat mengutarakan rencana pelonggaran PSBB. Ia menilai bahwa pelonggaran PSBB ini dapat memberikan ruang bagi masyarakat yang ingin mencari nafkah. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, juga telah melonggarkan ketentuan moda transportasi umum. Beberapa transportasi kini dapat melayani penumpang dengan beberapa syarat khusus.
Sementara itu, pemerintah memberikan izin pada angkatan kerja berusia di bawah 45 tahun untuk tetap bisa bekerja di tengah pandemi ini. Dilansir dari laman Kumparan, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengakatan, alasan pemberian izin ini untuk menekan jumlah angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
“Kelompok muda usia di bawah 45 tahun mereka adalah sacara fisik sehat, mereka punya mobilitas tinggi dan rata-rata kalau toh mereka terpapar mereka belum tentu sakit, mereka tidak ada gejala. Kelompok ini tentunya kita berikan ruang beraktivitas lebih banyak lagi sehingga potensi terkapar karena PHK bisa kita kurangi,” ujar Doni saat jumpa pers pada Kumparan, Senin (11/5).
Gugus Tugas COVID-19 mencatat, penduduk berusia 60 tahun ke atas mengalami angka kematian tertinggi yaitu 45 persen. Sedangkan angka kematian penduduk usia 46-59 tahun mencapai 40% kasus dengan catatan mempunyai penyakit lain seperti diabetes, jantung, ginjal dan sebagainya.
Kebijakan baru pemerintah ini tentunya menuai polemik dari berbagai pihak. Menurut data yang didapat dari situs covid19.go.id penduduk yang positif terinfeksi virus sekitar 53,4 persen justru mayoritas berusia 0 - 45 tahun. sementara 46,6 persen berusia 46 tahun ke atas. Kelompok muda yang dianggap terinfeksi tanpa gejala, jika dibiarkan beraktivitas bebas itu rentan membuka peluang penularan senyap. Karena bisa saja terlihat sehat setelah terinfeksi dan dapat berpotensi sebagai carrier virus.
Pemerintah memahami bahwasannya kelompok usia 45 tahun juga berisiko tertular COVID-19. Namun, kelompok usia ini adalah pekerja dengan mobilitas tinggi. Risiko akan berkurang jika mereka menjaga diri dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sehingga risiko penularan dan yang tertular dapat berkurang. (SD/DYK/MA-NEWSROOM UNTIRTA)

Posting Komentar

0 Komentar